Minggu, 25 Januari 2009

Sindrom Sekolah Materialisme. (Sebuah kritik dan refleksi untuk dunia pendidikan).

Sistem pendidikan di Indonesia, saat ini dapat dirasakan sebagai sekolah yang sangat mengagungkan nilai-nilai materialisme. Mungkin pendapat ini terlalu pedas, tapi tidak bisa dipungkiri sistem pendidikan kita ini telah berpihak pada individu yang memiliki kekuatan dalam hal ini kekuatan materi (uang), membuat segalanya didapatkan dengan mudah. Sekolah telah menjadi ladang yang menguntungkan dalam berbisnis. Pendapat ini saya amati dari begitu menjamurnya sekolah-sekolah. Begitu banyak sekolah kita temui saat ini, terutama di daerah perkotaan, mungkin kondisi ini agak memprihatinkan apabila kita melihat di daerah pedesaan atau daerah yang terpencil, yang sangat minim fasilitas, terutama fasilitas pendidikan (sekolah). Menjamurnya sekolah-sekolah ini disatu sisi agak menggembirakan, hal ini menandakan bahwa masyarakat kita semakin sadar dengan pendidikan, namun disatu sisi kita harus lebih waspada bahwa dampak positif selalu dibarengi dengan berkembangnya dampak negatif. Hal ini berarti bahwa menjamurnya sekolah-sekolah ini juga memiliki dampak negatif tersendiri. Dampak negatif ini dapat dilihat dari persaingan sekolah-sekolah dalam memperebutkan murid-murid. Persaingan ini menimbulkan suatu penyakit bagi sekolah itu sendiri, yang disebut sebagai sindrom sekolah materialisme. 
Sindorom sekolah materialisme ini bercirikan persaingan mulai dari program-program sekolah, harga, prestasi, maupun iklan-iklan yang dipasang diberbagai tempat. Kalau kita lebih menyadari sekolah-sekolah ini berusaha untuk bersaing satu dengan yang lainnya, mulai dari program, harga, iklan, bahkan prestasi-prestasi yang dapatkan oleh murid-murid mereka juga dimasukan sebagai iklan, agar para orangtua berbondong-bondong menyekolahkan anaknya masuk ke sekolah tersebut. Berebut untuk menjadi sekolah favorit, menjadikan sekolah tersebut sebagai sekolah yang memiliki banyak keuntungan, terutama dari segi finansial. Bagitu banyak orangtua berharap agar anak-anak mereka masuk sekolah favorit, mulai dari anak orang yang mampu secara finansial, sampai dari orang yang tidak mampu secara finansial. Bagi orangtua yang mampu secara finansial memasukan anak-anak mereka ke sekolah favorit mungkin urusan yang mudah, karena mereka dapat melakukan apa saja dari kekuatan finansial mereka. Berbagai cara mereka lakukan agar anak-anak mereka masuk dengan harapan yang besar kepada sekolah-sekolah tersebut, agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang layak. Harapan ini juga seperti yang diharapkan oleh orangtua yang tidak memiliki finansial yang cukup kuat, mungkin apabila anak mereka tergolong murid berprestasi, hal ini tidak masalah karena mereka berpikir bahwa anak mereka akan mendapatkan pendidikan yang layak dari prestasi anak mereka, namun walaupun demikian kondisi lingkungan sekolah tidak banyak membantu kondisi anak-anak seperti ini. Kebanyakan anak-anak dengan kondisi ini akan banyak menemui kesulitan terutama dari segi finansial atau material.
Bagi anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang begitu mengagungkan nilai-nilai materi, menjadikan anak-anak tersebut tumbuh menjadi individu yang hedonisme, egoisme, dan individualisme. sistem pendidikan sekolah yang begitu mengagungkan nilai-nilai materialisme ini telah mencetak individu yang luar biasa mengerikan. Apabila kita sedikit mau berbenah diri dengan melihat kondisi ini, mungkin kita akan menyadari bahwa sistem ini telah begitu mengerikan sekali, kita telah menciptakan monster-monster kecil disekitar masyarakat. KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme), penyakit masyarakat di era postmodern ini timbul dan disebabkan sistem pendidikan yang begitu mengagungkan materialisme. Orangtua-orangtua yang begitu mengandalkan meteri ini secara tidak sadar telah menanamkan nilai-nilai yang mereka bawa kepada anaknya bahwa materi memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menaklukan yang ada disekitanya. Secara tidak kita sadari kita telah mengambil bagian dalam menciptakan penyakit masyarakat.
Lahirnya sekolah-sekolah favorit di lingkungan kita semakin membuat jurang pemisah antara mayoritas dengan minoritas, kaya dan miskin. Kita tidak sadar bahwa kita telah ditipu oleh sistem yang ada saat ini, secara tidak kita sadari sistem ini telah membuat kita menjadi masyarakat yang mengagungkan materialisme, individualisme, hedonisme, egoisme. Sistem ini telah menjadikan kita sebagai budaknya. Para orangtua berusaha untuk mengejar berbagai macam cara agar anak-anak mereka masuk dalam sekolah favorit. Kita lupa bahwa kita telah melupakan yang paling penting dalam pendidikan ini, bukan segi intelektual, namun nilai. Kita telah lupa bahwa yang terpenting dalam mendidikan anak ialah menetapkan nilai-nilai moral diatas segala sistem yang ada. Sekolah favorit telah melupakan pentingnya nilai-nilai moral. Anak-anak diajarkan bagaimana mereka menjadi orang-orang yang pintar dan mampu bersaing dengan siapapun, tapi mereka lupa betapa pentingnya nilai moral merupakan hal yang terpenting dibandingkan apapun. Anak-anak belajar, bahwa mereka harus bisa bersaing dengan teman-teman mereka dalam aspek kognitif, sehingga mereka melakukan berbagai macam cara agar mereka mendapatkan peringkat pertama dalam aspek kognitif, yang dilihat dari prestasi sekolah mereka, seperti menjadi peringkat pertama. 
 Sekolah yang berfokus pada sistem pendidikan nilai ini merupakan salah satu sekolah terbaik yang pernah ada, dalam menciptakan individu yang bermoral dan bertanggung jawab. Film Laskar pelangi mengajarkan pada kita bahwa sistem pendidikan ini sudah harus diubah. Dalam film ini diajarkan bagaimana nilai-nilai moral lebih penting daripada nilai-nilai intelektual. Sekolah dalam film laskar pelangi ini mungkin dapat dikatakan telah terbebas dari sindrom sekolah meterialisme. Bila kita selidiki lebih lanjut, sekolah ini begitu banyak mengajarkan murid-muridnya tentang nilai-nilai, mulai dari persahabatan, perjuangan, kasih sayang, tolong menolong, akhlak, kejujuran, kebersamaan, dan kerukunan begitu penting daripada sistem pendidikan yang ada. 
 Setelah kita melihat pada kondisi diatas ada baiknya kita bersama-sama menjadi agent of change dalam merombak sistem pendidikan yang ada, untuk itu ada baiknya kita menjadi lebih proaktif dalam merubah sistem pendidikan yang ada, dengan berusaha agar tidak terjebak dan keluar dari perbudakan sindrom sekolah materialisme. Dalam hal ini sistem pendidikan yang berbasis pada nilai lebih mampu mencetak being of human, sehingga anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sehat baik secara mental, dan moral, mereka akan menjadi lebih bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Sistem pendidikan berbasis pada nilai ini memiliki dampak positif, selain membentuk manusia yang berkarakter dan kesadaran diri yang penuh, sistem ini juga memiliki benefit yang lain, kemajuan pada intelektual, akibat dari kesadaran yang ditimbulkan pada anak.
 Sebagai penutup, ada pentingnya kita merenungkan tentang sistem pendidikan yang telah ada saat ini, mulai dari menjawab pertanyaan yang dapat kita renungkan tentang pendidikan saat ini:
1. Bagaimana sistem pendidikan sekolah kita saat ini?
2. Menurut anda apakah keberadaan sekolah-sekolah favorit yang ada ini telah menjadi ladang dalam menyuburkan sistem nilai yang berfokus pada materialisme?
3. Apa yang terpenting di dalam memilih sekolah bagi anak anda?
4. Melihat film laskar pelangi menurut anda apa perbedaan mendasar dari sistem sekolah (tempat ikal dan teman-temannya) dengan sekolah favorit yang ada dalam film tersebut?.

Beri comment.



Tidak ada komentar: